Minggu, 18 Desember 2022. Pertemuan yang diadakan di Desa Gekbrong dengan dihadiri oleh para petani dari Kelompok Tani Kencana dan tim peneliti P4W hadir memandu jalannya acara. Agenda FGD kali ini adalah untuk mendiskusikan permasalahan lingkungan dan isu-isu strategis serta penyusunan rencana aksi kelompok di Desa Gekbrong, utamanya dalam melibatkan Kelompok Tani Kencana.
Adapun pengantar FGD yang disampaikan, yaitu “Kolaborasi Multipihak dalam Penyelamatan Kawasan Hulu Sub DAS Cibeleng-Cisatong, Cianjur-Sukabumi”. Pengantar tersebut menyampaikan bahwa pentingnya kawasan hulu bagi daerah dibawahnya sehingga kawasan hulu perlu ditingkatkan serta dijaga kualitas lingkungannya. Berkembangnya industri di wilayah ini berdampak pada meningkatnya perubahan lahan dan tutupan lahan terbangun setiap tahunnya. Perubahan tersebut dapat meningkatkan potensi bencana alam. Dampak negatif yang ditimbulkan tentunya tidak bisa menjadi dasar untuk menyalahkan salah satu pihak saja. Perlu adanya tanggungjawab bersama untuk melakukan perbaikan terhadap lingkungan. Tanggungjawab bersama ini dilakukan dengan melibatkan stakeholder yang ada di wilayah kajian. artinya perlu ada wadah atau forum bersama dalam melestarikan lingkungan di Sub DAS Cibeleng. Dalam diskusi, masyarakat diajak untuk memahami tren perubahan lahan yang terjadi di Desa Gekbrong dari tahun 2000 hingga 2021 melalui hasil analisis yang telah dilakukan oleh tim P4W. Kemudian disampaikan juga isu-isu strategis yang didapatkan selama berada di lapangan.
Proses diskusi dimulai dengan memetakan permasalahan yang terjadi di Desa Gekbrong. Berdasarkan analisis pohon masalah menunjukan bahwa bencana krisis air, tanah longsor, dan banjir merupakan beberapa permasalahan yang dialami oleh masyarakat di Desa Gekbrong. Banyak faktor yang menyebabkan permasalahan tersebut, salah satunya adalah alih fungsi lahan menjadi perumahan yang dilakukan oleh perusahaan sekitar desa, sehingga berkurangnya daerah resapan air. Akibat dari alih fungsi lahan, tidak bisa dihindari akan mudahnya terkena banjir ataupun longsor. Menurut para petani, di desa tidak ada lembaga untuk mengatur air, karna itu di Desa sering kali mengalami kekeringan pada saat kemarau. Hasil dari diskusi didapatkan, bahwa terjadinya bencana di desa disebabkan oleh tidak adanya pohon, penggunaan herbisida, serapan air berkurang, tidak ada penampungan air, saluran air tidak cukup menampung, penebangan pohon untuk kebutuhan kayu bakar, pengambilan air oleh perusahaan, pengeboran air untuk perumahan dan nursery, dan penambangan pasir. Akar masalah dari dampak yang dirasakan oleh masyarakat berdasarkan analisis pohon masalah adalah pembukaan lahan, alih fungsi lahan, dan curah hujan yang tinggi. Berdasarkan hasil analisis pohon masalah tersebut kemudian dijadikan sebagai bahan untuk menyusun rencana aksi kelompok serta mengidentifikasi pihak-pihak mana yang dilibatkan. Karena pada dasarnya masyarakat desa tidak akan bisa melakukan aksi penyelamatan lingkungan di desa tanpa bantuan pihak-pihak yang sangat berperan penting untuk berjalannya aksi tersebut, baik pihak dari perusahaan maupun pemerintah daerah.
