Sabtu, 17 Desember 2022. Pertemuan yang diadakan di Desa Titisan dengan dihadiri oleh para petani dari Kelompok Tani Gedurahayu dan perwakilan dari rukun warga Gedurahayu serta tim peneliti P4W hadir memandu jalannya acara. Agenda FGD kali ini adalah untuk mendiskusikan FPIC, verifikasi peta dan isu-isu strategis serta penyusunan rencana aksi Desa Titisan.
Adapun pengantar FGD yang disampaikan, yaitu “Kolaborasi Multipihak dalam Penyelamatan Kawasan Hulu Sub DAS Cibeleng-Cisatong, Cianjur-Sukabumi”. Pengantar tersebut menyampaikan bahwa pentingnya kawasan hulu bagi daerah dibawahnya sehingga kawasan hulu perlu ditingkatkan serta dijaga kualitas lingkungannya. Berkembangnya industri di wilayah ini berdampak pada meningkatnya perubahan lahan dan tutupan lahan terbangun setiap tahunnya. Perubahan tersebut dapat meningkatkan potensi bencana alam. Dampak negatif yang ditimbulkan tentunya tidak bisa menjadi dasar untuk menyalahkan salah satu pihak saja. Perlu adanya tanggungjawab bersama untuk melakukan perbaikan terhadap lingkungan. Tanggungjawab bersama ini dilakukan dengan melibatkan stakeholder yang ada di wilayah kajian. artinya perlu ada wadah atau forum bersama dalam melestarikan lingkungan di Sub DAS Cibeleng. Dalam diskusi, masyarakat diajak untuk memahami tren perubahan lahan yang terjadi di Desa Gekbrong dari tahun 2000 hingga 2021 melalui hasil analisis yang telah dilakukan oleh tim P4W. Kemudian disampaikan juga isu-isu strategis yang didapatkan selama berada di lapangan.

Dalam diskusinya, Thomas Oni Veriasa, M.Si menekankan bahwa topik yang akan dibahas sangat penting kaitannya dengan keterlibatan perusahaan dalam aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok nantinya. Hal ini berkaitan dengan potensi masalah yang mungkin akan terjadi yakni bencana tanah longsor dan kekeringan. Oleh sebab itu, kedepan perlu ada aksi bersama dengan melibatkan berbagai pihak. Diskusi dilanjutkan dengan membahas lahan garapan kelompok di Desa Titisan, dipandu oleh Febri Sastiviani Putri Cantika, SP. Peserta FGD menyampaikan beberapa permasalahan yang sangat berdampak terhadap kelangsungan pertanian di Desa Titisan, salah satunya salah masalah kekeringan. Menurut para petani, kekeringan disebabkan oleh alih fungsi lahan yang dilakukan oleh perusahaan (PTPN), walaupun berganti menjadi lahan pertanian hortikultura, namun air tidak tertampung sebagimana mestinya. Hal itu menyebabkan distribusi air tidak maksimal, lebih banyak run off yang akan berdampak kepada longsor. Tidak hanya perusahaan yang melakukan alih fungsi lahan saja, harapannya perusahaan yang juga memakai akses air bersih di desa bisa ikut mendukung dalam perbaikan tata kelola perairan di desa, sehingga kebutuhan air untuk masyarakat dan perusahaan bisa terpenuhi tanpa adanya kekeringan. Dengan adanya FGD ini dapat menjembatani para petani dan warga dengan perusahaan sekitar desa untuk ikut berperan dalam aksi 𝐏𝐞𝐧𝐲𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐰𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐇𝐮𝐥𝐮 𝐬𝐮𝐛 𝐃𝐀𝐒 𝐂𝐢𝐛𝐞𝐥𝐞𝐧𝐠-𝐂𝐢𝐬𝐚𝐭𝐨𝐧𝐠.
