Sukabumi 21-23 Desember 2024 – Kabupaten Sukabumi, dengan kondisi geografisnya yang beragam, menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan sumber daya alam. Salah satu perhatian utama adalah keberlanjutan Sub DAS Cibeleng, yang memegang peranan penting sebagai sumber air bagi masyarakat sekaligus pendukung ekosistem. Melihat ancaman berupa penurunan daya dukung lingkungan, berkurangnya infiltrasi air, dan risiko banjir di wilayah hilir, Forum Koordinasi Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (FKPPLH) Sukabumi memilih untuk fokus pada program jasa lingkungan melalui pembangunan sumur resapan di Sub DAS Cibeleng Desa Titisan Kecamatan Sukalarang pada tahun 2025. Sub DAS ini menjadi lokasi kedua penerapan PJLH di Kabupaten Sukabumi setelah Sub DAS Cicatih di Kecamatan Cicurug dan Cidahu.
Pemilihan program jasa lingkungan ini didasari oleh fakta bahwa wilayah hulu DAS memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan hidrologis. Namun, aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dan penebangan pohon telah mengurangi kemampuan kawasan ini dalam menyerap air hujan. Akibatnya, terjadi peningkatan aliran permukaan yang memicu erosi, sedimentasi, dan banjir di wilayah hilir.
Pentingnya program ini juga didukung oleh data perubahan lahan dan potensi bencana di hulu DAS Cibeleng yang menunjukkan penurunan kualitas ekosistem. Peneliti dari Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB, Andi Yoga Saputra, mengungkapkan bahwa tingkat perubahan lahan akibat aktivitas manusia di kawasan tersebut telah mencapai angka rentan. “Data kami menunjukkan adanya pengurangan tutupan vegetasi lebih dari 30 persen dalam dua dekade terakhir. Kondisi ini memperburuk kemampuan kawasan hulu untuk menyerap air dan menahan erosi,” jelasnya. Andi menambahkan bahwa solusi seperti sumur resapan sangat relevan untuk memulihkan fungsi ekosistem, terutama jika diiringi dengan penanaman kembali vegetasi lokal.

“Program jasa lingkungan ini merupakan langkah strategis untuk mengatasi masalah di hulu DAS Cibeleng. Dengan memaksimalkan fungsi ekosistem hulu, kita tidak hanya mengurangi risiko banjir, tetapi juga memastikan ketersediaan air bersih yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Asep Rahmat Mulyana, Kepala DPTR Sukabumi, selaku Ketua FKPPLH.
Sumur resapan yang dibangun dalam program ini memiliki berbagai fungsi penting. Salah satunya adalah meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah, sehingga mengurangi aliran permukaan yang sering menyebabkan banjir di hilir. Selain itu, air yang terserap menjadi cadangan yang membantu menjaga ketersediaan air tanah, terutama selama musim kemarau. Dengan menahan aliran air hujan, sumur resapan juga membantu mencegah erosi dan pengikisan tanah di sekitar DAS. Manfaat lainnya adalah mendukung ekosistem lokal dengan menjaga stabilitas ketersediaan air untuk keanekaragaman hayati di kawasan hulu.
Program ini juga melibatkan masyarakat lokal dalam proses perencanaan dan pelaksanaannya. Selain memberikan pelatihan teknis terkait pembuatan dan perawatan sumur resapan, FKPPLH juga menggandeng komunitas lokal untuk memantau keberlanjutan program. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap lingkungan sekitar mereka.
Meski program jasa lingkungan ini memiliki manfaat besar, tantangan tetap ada, seperti kurangnya pendanaan dan kebutuhan edukasi lebih lanjut bagi masyarakat. Namun, FKPPLH Sukabumi optimistis bahwa pendekatan berbasis kolaborasi dapat mengatasi kendala tersebut.
“Kami ingin menjadikan program jasa lingkungan ini sebagai contoh keberhasilan pengelolaan lingkungan yang berbasis masyarakat dan ilmu pengetahuan. Dengan sinergi yang kuat, kami yakin Sub DAS Cicatih bisa menjadi lebih lestari,” tambah Asep Rahmat Mulyana.
Melalui program ini, FKPPLH Sukabumi berharap dapat menciptakan dampak jangka panjang yang positif bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat. Program jasa lingkungan ini menjadi langkah nyata untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat.
