CIANJUR, P4W IPB University — Sub DAS Cibeleng merupakan bagian penting dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dalam upaya pemulihan lingkungan di Kabupaten Cianjur. Melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat yang difasilitasi oleh Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (FKPDAS) Kabupaten Cianjur, melakukan aksi kolektif konservasi di Desa Kebonpeuteuy, Kecamatan Gekbrong, Senin (27/1/2026). Upaya ini menjadi kontribusi nyata daerah dalam mendukung penyelamatan dan pemulihan DAS Citarum secara menyeluruh.
Sub DAS Cibeleng berfungsi sebagai kawasan resapan air dan zona lindung untuk kawasan Cekungan Air Tanah Cianjur yang menopang keseimbangan hidrologi wilayah Cianjur bagian tengah dan hilir. Perubahan tutupan lahan dalam dua dekade terakhir seiring intensifikasi pertanian dan meningkatnya tekanan pembangunan, sehingga menyebabkan menurunnya kemampuan tanah menyerap air. Kondisi ini berkontribusi pada berkurangnya debit mata air di musim kemarau dan meningkatnya limpasan permukaan saat hujan lebat.
Dalam konteks tersebut, aksi kolektif konservasi diposisikan tidak sekadar sebagai kegiatan penanaman pohon, melainkan sebagai bagian dari upaya jangka panjang memperbaiki tata kelola DAS berbasis kolaborasi. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama, dengan dukungan kebijakan, pendampingan ilmiah, serta pembiayaan dari berbagai pihak.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup sekaligus Ketua FKPDAS Kabupaten Cianjur, H. Komarudin, menyatakan bahwa Sub DAS Cibeleng kini dikembangkan sebagai lokasi percontohan konservasi terpadu di wilayah hulu.
“Di kawasan hulu seluas hampir 102 hektare ini, masyarakat sudah mulai melakukan pengelolaan lahan. Pemerintah kemudian memperkuat melalui skema pembayaran jasa lingkungan hidup dan dukungan lintas sektor,” ujarnya.

Model konservasi yang dikembangkan menekankan keterkaitan antara pemulihan fungsi ekologis dan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Vegetasi yang ditanam tidak hanya berfungsi sebagai penutup lahan dan penahan erosi, tetapi juga dipilih dari jenis tanaman keras bernilai ekonomi agar masyarakat memiliki kepentingan langsung untuk menjaga kawasan.
Selain pengkayaan vegetasi, upaya konservasi difokuskan pada peningkatan daya resap tanah melalui pembangunan rorak dan sumur resapan. Infrastruktur ini dirancang untuk menahan dan mengalirkan air hujan ke dalam tanah, sehingga mengurangi limpasan permukaan yang berpotensi memicu banjir dan longsor. Melalui skema Pembayaran Jasa Lingkungan Hidup (PJLH), sejumlah perusahaan dilibatkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur resapan air di kawasan Sub DAS Cibeleng.
Dari sisi akademisi, keterlibatan perguruan tinggi berperan penting dalam memastikan kegiatan berjalan berbasis data dan kajian ilmiah. Febri Sastiviani Putri Cantika dari IPB University menjelaskan bahwa aksi kolektif ini merupakan bagian dari proses panjang penguatan kelembagaan pengelolaan DAS di Kabupaten Cianjur.
“FKPDAS Kabupaten Cianjur merupakan forum kolaboratif yang dibangun melalui pendekatan bottom-up. Proses pendampingan dan penguatan forum ini difasilitasi oleh IPB University yang telah berproses sejak 2022, sehingga FKPDAS memiliki perangkat kerja yang cukup lengkap untuk mendukung pengelolaan DAS secara partisipatif,” ujarnya.
Pemilihan Desa Kebonpeuteuy sebagai lokasi implementasi didasarkan pada hasil riset yang menunjukkan wilayah ini sebagai zona imbuhan cekungan air tanah Cianjur. Dengan demikian, intervensi konservasi di wilayah ini dinilai strategis untuk menjaga ketersediaan air dalam jangka panjang, baik bagi masyarakat setempat maupun wilayah di sekitarnya.

Dampak awal program mulai terlihat di tingkat tapak. Ujang, perwakilan kelompok tani setempat yang telah bermitra dengan FKPDAS Kabupaten Cianjur, menyampaikan bahwa mata air yang sebelumnya mengering kini mulai kembali mengalir setelah pembangunan sumur resapan dan rorak.
“Dulu ada mata air yang kering sejak tahun 2000. Setelah dibangun rorak dan sumur resapan, sekarang airnya mulai keluar lagi,” katanya.
Selain pemulihan sumber air, rorak dan sumur resapan berfungsi mengendalikan limpasan air hujan dengan menahan aliran permukaan agar tidak langsung masuk ke pemukiman warga. Infrastruktur konservasi ini juga dioptimalkan sebagai media penanaman tanaman produktif, sehingga selain fungsi hidrologis, memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani.
Sementara itu, Wakil Bupati Cianjur, Ramzi, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup di daerah. Ia juga menekankan peran strategis akademisi dan masyarakat dalam upaya penyelamatan DAS. “Kepada para akademisi, saya berharap perannya terus diperkuat melalui riset, edukasi, dan pendampingan masyarakat. Kepada kelompok tani dan masyarakat pengelola, saya menyampaikan terima kasih setinggi-tingginya atas peran aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan,” kata Ramzi.
Menurut dia, kolaborasi yang telah terbangun perlu dijaga sebagai gerakan bersama yang berkelanjutan. “Mari kita jadikan kolaborasi hijau ini sebagai titik awal gerakan bersama dalam penyelamatan DAS, khususnya Sub DAS Cibeleng, demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Cianjur,” ujarnya.

Sebagai bagian dari penguatan komitmen para pihak, Pemerintah Kabupaten Cianjur dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur menyerahkan piagam penghargaan kepada perusahaan yang berkontribusi dalam pengembangan skema Pembayaran Jasa Lingkungan Hidup (PJLH) di Kabupaten Cianjur. PT Tirta Investama disebut sebagai perusahaan pionir yang pertama menjalin kemitraan dengan FKPDAS Kabupaten Cianjur melalui pembangunan dan pemeliharaan sumur resapan.
Selain itu, piagam penghargaan juga diberikan kepada PT Aurora World, PT Sinar Budi Intraco, dan PT Notos yang turut mendukung implementasi skema PJLH di Kabupaten Cianjur.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) antara FKPDAS Kabupaten Cianjur dan perusahaan pemanfaat jasa lingkungan hidup untuk implementasi skema PJLH pada 2026. Perusahaan yang terlibat dalam kerja sama tersebut meliputi PDAM Tirta Mukti, CV Cisarua, PT Sayap Mas Utama, PT Lianhua Leather Industry, serta PT Tirta Sukses Perkasa.
Aksi kolektif konservasi ini ditutup dengan penanaman pohon bersama sebagai simbol komitmen lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air. Pemerintah Kabupaten Cianjur berharap pendekatan kolaboratif ini dapat direplikasi di wilayah lain sebagai bagian dari upaya jangka panjang memperkuat ketahanan lingkungan dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

